Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email

David Desanan Anan Winowod, Direktur Utama PT. Bintang Samudera Mandiri Lines

Jakarta, CNBC Indonesia – Perusahaan yang bergerak di bisnis pelayaran, PT Bintang Samudera Mandiri Lines berencana melakukan penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) di Bursa Efek Indonesia.
Perseroan akan menawarkan sebanyak-banyaknya 370.045.000 saham atau setara 20% dari total saham yang dicatatkan.

Perusahaan akan dicatatkan dengan kode saham BSML ini menawarkan harga IPO di rentang Rp 100 sampai dengan Rp 150 per saham. Sehingga, dari IPO ini, BSML berpotensi meraih dana segar sebesar Rp 37 miliar sampai dengan Rp 55,5 miliar.

Periode bookbuilding akan dilaksanakan pada 16 November 2021 sampai dengan 25 November 2021. Perseroan menunjuk Danatama Makmur Sekuritas sebagai penjamin emisi efek.

Periode penawaran umum akan dilaksanakan pada 30 November – 10 Desember 2021 dan pencatatan saham perseroan di BEI pada 14 Desember 2021 mendatang.

Perusahaan berencana menggunakan dana yang diproleh dari IPO ini sekitar 70% untuk modal kerja berupa charter kapal, angkutan laut dan jasa agency, serta kegiatan operasional perseroan.

Selanjutnya, 15% dana akan dialokasikan sebagai pinjaman kepada entitas anak, PT Bintang Samudera Mandiri Persada dan 15% lainnya digunakan untuk membayar sebagian utang bank.

Baca: Bisa Jadi Nomor 3 Setelah BCA & BRI, MI Bakal Borong IPO GoTo
PT Bintang Samudera Mandiri Lines didirikan pada tahun 2012 di Jakarta, PT Bintang Samudera Mandiri Lines Tbk. merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pelayanan pengangkutan laut dan penyediaan jasa logistik, dengan integritas dan profesionalisme yang mengutamakan pelayanan prima.

Perseroan memiliki surat izin usaha angkutan laut (SIUPAL) dari departemen perhubungan Republik Indonesia sejak tahun 2010, serta memiliki 9 armada yang siap beroperasi di wilayah pelabuhan Indonesia diantaranya Kalimantan, Sulawesi dan Jawa.

Sumber: cnbcindonesia.com
Penulis: Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia